You are here: Home > Paket wisata ke bandung > 4 Lokasi Wisata Kuliner Bandung yang Patut Anda Nikmati

4 Lokasi Wisata Kuliner Bandung yang Patut Anda Nikmati

Menghabiskan akhir pekan di Bandung mungkin bukan pilihan baru. Namun, bagaimana dengan menikmati Kota Kembang melalui jajanan yang telah melegenda? Berikut empat kuliner yang telah ada selama puluhan tahun di Bandung.

1. Lotek Kalipah Apo Melihat tampilannya, sepiring lotek akan mengingatkan Anda dengan panganan khas daerah lain seperti gado-gado di Jakarta atau pecel karena dibuat dari bumbu berbahan dasar kacang tanah. Lotek di Jalan Kalipah Apo ini telah ada sejak 1953. Dulu, neneknya menjual Lotek di teras rumah menggunakan satu meja. Lama-kelamaan, Lotek yang berisi sayuran seperti kangkung, toge, nangka muda, kembang kol berpadu dengan lontong, bumbu kacang dan kerupuk udang ini menjadi kian populer. Lydia yang menjadi generasi ketiga penerus usaha keluarga ini memastikan kualitas dan mempertahankan resep demi kesetiaan rasa. Alhasil, di setiap proses pengolahan akan selalu ada penyortiran untuk memastikan semua bahan yang digunakan berkualitas nomor satu. “Selalu ada sortiran di setiap prosesnya,” ujarnya. Tak saja dari sisi pemilihan, cara pengolahannya pun dipertahankan. Racikan bumbu seperti kacang, kencur, perasan jeruk nipis, gula merah, bawang merah dan bawang putih dihaluskan di atas coet atau sebuah alat tradisional penghalus bumbu. Agar kekentalannya pas, Lydia menambahkan kentang rebus. Demi mendapat rasa yang lebih istimewa, kacang tanah yang digunakan tak digoreng. Melainkan, disangrai selama 45 menit dengan api kecil. Tujuannya, agar bumbu tak berminyak. “Biar kentalnya pas, ditambah kentang rebus. Asamnya, diambil dari jeruk nipis. Kacang tanahnya disangrai jadi bumbunya tidak berminyak,” katanya. Saat sepiring Lotek tiba di meja, wangi jeruk nipis bercampur kencur menempel di hidung. Bumbu kacang dengan kekentalan yang tepat membuat sayur-sayuran begitu nikmat ketika satu sendokan pertama memenuhi rongga mulut. Perlahan, rasa pedas dan manisnya mulai keluar. Rasanya akan semakin lengkap bila bumbu kacang, sayuran dan lontong dipadukan dalam sekali lahap. Lembutnya lontong berpadu dengan bumbu kacang yang kental. Sebagai pelengkap, potongan kerupuk udang langsung membuat Anda tak berhenti menyantap Lotek yang telah sampai di generasi ketiga ini. Dengan mengeluarkan uang Rp18.000, Anda bisa menikmati Lotek ini. Tak saja Lotek, menu lain yang bisa Anda pilih yaitu aneka rujak, kolak dan kerupuk. Lima menu rujak, 10 menu kolak dan jenis kerupuk yang langka seperti kerupuk jengkol bisa Anda temukan di sini.

2. Soto Ahri Bila Anda termasuk salah seorang penggemar soto, tak lengkap rasanya tanpa mencicipi Soto Ahri. Soto asli Garut ini telah ada sejak 1943. Seperti namanya, soto ini dipopulerkan oleh H.Ahri. Namun, akibat rasanya yang tak terlupakan membuat Deden Agustian, generasi ketiganya meneruskan usaha keluarga. Tanpa menghapus resep yang ada sejak awal, Deden membawa semua bahan-bahannya dari Garut. Kedainya di Bandung baru berdiri pada 2004. Dia menilai usaha keluarganya tak akan bisa sampai saat ini tanpa komitmen menjaga citarasa. Dengan memperhatikan semua detail dari setiap bahannya, dia meyakini hal itulah yang membuat pengunjung akan kembali menikmati kesegaran sotonya. Bumbu, kacang kedelai, kecap bahkan teh yang disajikan khusus didatangkan dari Garut. “Enggak tahu ya, semuanya ngaruh. Air yang beda aja ngaruh sama rasa. Makanya bumbu diimpor dari Garut,” ujarnya. Kacang kedelai yang disandingkan dengan seporsi soto adalah jenis kacang gapros yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Begitu pula dengan kecap cap kunci yang merupakan hasil pabrik rumahan, kerupuk kulit dan teh yang tumbuh di Garut. “Nteh, kecap cap kunci, kerupuk kulit, kacang gapros garut. Semua dari Garut,” katanya. Selain bahan, cara pengolahannya pun tak luput dari perhatian. Penggunaan alat masak tradisional tetap digunakan demi rasa yang sama. Dagingnya, khusus menggunakan daging sapi lokal yang masih muda. Tujuannya, agar mendapat kaldu berkualitas baik. Pasalnya, penggunaan daging sapi impor akan mengurangi kualitas kaldunya. Daging, katanya, dimasak selama tiga sampai empat jam. Khusus di Bandung, tak ada daging jeroan seperti usus atau babat yang digunakan. Untuk kuahnya, santan, kunyit dan rempah-rempah yang dihaluskan disatukan. Tak heran dengan cara seperti ini, Deden menghabiskan hingga 35 kg daging sapi per harinya dari sebelumnya yang hanya 3 kg. “Kalau daging impor, kan dipres jadi enggak keluar kaldu. Kalau sapi lokal, kaldunya bagus. Daging muda, daging ABG. Dimasak 3 sampai 4 jam,” katanya. Seporsi soto dengan potongan daging sapi serta seledri, bawang goreng sebagai toppingnya. Sebagai pelengkap, perasan jeruk nipis dan kacang kedelai bisa turut ditambahkan ke dalam mangkuk. Renyahnya kacang, bercampur dengan kuah yang segar dan daging yang begitu empuk. Kesegaran semakin sempurna saat Anda meneguk teh tawar sebagai penutup kesempatan santap Anda di kedai ini. Untuk menikmatinya cukup membayar Rp21.000. Jangan datang terlalu sore, agar Anda tak kecewa karena gagal menikmati segarnya Soto Ahri.

3. Kupat Tahu Gempol Kupat Tahu Gempol sebenarnya telah dinikmati sejak 1965. 10 tahun kemudian, pengelolaan panganan legenda ini turun ke anaknya, Yayah. Meski berdiri di tempat sederhana di bilangan Jalan Gempol, rasa kupat tahu yang disajikan tak main-main. Potongan tahu khas Cibuntu yang lembut berpadu dengan bumbu kacang, ketupat, tauge rebus, kucuran kecap, bawang goreng dan kerupuk kemplang memberikan pengalaman berkuliner Anda kian lengkap. Bagaimana tidak, kekentalan bumbu kacang yang begitu sempurna bercampur dengan tauge segar serta tahu dan ketupat yang begitu lembut. Sulit dilupakan dan Anda akan teringat dengan bumbu yang begitu gurih. Tak salah jika panganan ini pernah mampir di World Street food Congres di Singapura pada April 2015. Dari empat panganan khas Nusantara, Kupat Tahu Gempol menduduki urutan kedua dengan menghidangkan 2.200 porsi. Yayah pun tak menyangka bila banyak orang menyukai bumbu racikan yang telah diturunkan itu. “Alhamdullilah, engga nyangka. Senang udah bisa sampai ke Singapura. Dari empat makanan Indonesia, Kupat Tahu Gempol nomor dua,” ujarnya. Di kedainya, Yayah bisa menghabiskan hingga 300 porsi per hari. Sementara, pada akhir pekan angkanya melonjak menjadi 600 porsi dalam sehari. Hal yang membuat banyak orang terus berdatangan karena proses dan bahan yang sengaja dipertahankan. Kacang tanahnya digiling dengan mesin manual, dicampur dengan santan, cabai, bawang merah, bawang putih, gula merah dan gula pasir. Seluruh bahan tersebut dimasak selama 8 jam. Agar bumbu menjadi lebih harum, helaian daun salam pun dicampurkan. Untuk menikmati Kupat Tahu Gempol, Anda cukup mengeluarkan uang Rp15.000.

4. Restoran Braga Permai Terkenal sejak era kolonial Belanda, Restoran Braga Permai terlihat masih sama dengan keadaan pada 92 tahun lalu. Berdiri dari 1923, restoran ini memang menjadi langganan Pemerintah Belanda. Tak heran bila aneka menu andalannya berasal dari Negeri Kincir Angin. Sebut saja seperti Tompoesjes, Ananas Geap, Speculaas Almond, Ontbijkoek, Booterstaf hingga yang lebih populer seperti Bitterballen. Meskipun kuno, pengunjung yang datang tak hanya berasal dari angkatan lawas. Anak muda pun ramai menikmati aneka menu segar yang membawanya ke suasana tahun 20-an. General Manager Braga Permai, Adi mengatakan masih ada alat yang dipertahankan hingga kini. Sebuah alat pemanggang sepanjang 5 meter masih bisa ditemui di dapur. “Di sini, masih ada oven zaman dulu yang panjangnya 5 meter,” ujarnya Satu menu minuman yang patut dicoba adalah Holland Float. Holland Float merupakan sebuah menu yang memadukan soda jeruk dan es krim vanila. Segarnya rasa jeruk, gelembung soda dan es krim vanila akan cocok sebagai pelepas dahaga setelah berkeliling di Kota Parahyangan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply